Laman

Jumat, 25 Februari 2011

Rukun Islam Dan Prinsip-Prinsip Akhlaq

Rukun Islam Dan Prinsip-Prinsip Akhlaq (Bagian ke-1)

Rasulullah telah menjelaskan tujuan utama diutusnya beliau menjadi rasul dan minhaj yang jelas melalui sabdanya, 
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq mulia.”   (HR. Malik).

Seolah-olah risalah yang alirannya telah ditentukan di dalam sejarah kehidupan, si pembawanya telah mengerahkan segenap tenaga untuk memancarkan sinarnya dan mengumpulkan orang di sekitarnya. Tidak lebih dari sekadar memberi dukungan terhadap kemuliaan mereka dan menyinari kesempurnaan yang telah berkibar di depan mereka agar mereka berjalan menuju risalah itu dengan jelas dan gamblang.
Dan sabdanya:
“Agama adalah akhlaq yang baik.”   (HR. Hakim).

Begitu pentingnya akhlaq dalam Islam seakan tidak ada ajaran agama kecuali akhlaq. Oleh karena itu akhlaq menjadi landasan hidup dan  pijakan dalam  berbicara, bersikap dan berperilaku, sebagai mana firman Allah:
“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”  (QS. Al-Qalam)

Rukun Islam yang lima sangat erat kaitannya dengan akhlaq; dua kalimat syahadat, shalat, zakat, shaum, dan hajji tidak dapat dipisahkan dari prinsip-prinsip dan nilai-nilai akhlaq. Setiap rukun dari rukun Islam yang lima harus berdampak positif pada perubahan perilaku dan gaya hidup seorang muslim.

Dan ibadah yang disyariatkan Islam adalah sebagai pilar-pilar keimanan bukan sekadar ritual semu yang menghubungkan antara manusia dengan alam gaib yang misterius. Memberinya dengan berbagai amal serba samar dan gerak-gerik tanpa makna. Tidak, sekali lagi tidak, berbagai kewajiban yang dibebankan Islam kepada setiap muslim merupakan latihan yang berulang-ulang agar  terbiasa dengan akhlaq yang benar dan senantiasa komitmen dengan akhlaq tersebut apapun kondisi yang dialaminya.

Ia tak ubahnya seperti senam yang sangat diminati orang. Dengan melakukannya secara kontinyu ia berharap agar badannya sehat dan hidupnya sejahtera.

1. Syahadatain dan akhlaq
Mengucapkan dua kalimat syahadat bukan kegiatan formalitas untuk menjadi muslim akan tetapi lebih jauh dan lebih dalam dari itu adalah bukti keyakinan yang kuat dan kejujuran yang sempurna serta keikhlasan yang mendalam dalam menerima Islam sebagai system hidup. Oleh karena itu Rasulullah menegaskan barang siapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah dengan hati yang jujur maka ia masuk surga.
“Tidak ada seorang hamba yang mengucapkan 'laa ilaaha illallah' kemudian mati dengan komitmen padanya melainkan ia masuk surga”  (HR. Bukhari)

“Barang siapa yang menghadap Allah dengan dua kalimat syahadat tanpa meragukannya sedikit pun maka ia masuk surga”  (HR. Ahmad)

Dari dua hadits di atas sangat jelas bahwa mengucapkan dua kalimat syahadat bukan hanya sekadar ucapan lisan akan tetapi disertai dengan keyakinan, kejujuran hati dan komitmen untuk menjalankan tuntutannya dengan benar dan ikhlas.

2. Shalat dan akhlaq
Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah Al-Muthahharah menyingkap hakikat ini. Shalat wajib misalnya, saat Allah memerintahkan melaksanakannya Dia juga menjelaskan hikmahnya.
Allah berfirman,
"Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."  (QS. Al-‘Ankabuut: 45)

Menjauhkan diri dari keburukan dan mensucikan diri dari semua perkataan serta amal buruk adalah hakikat shalat. Nabi meriwayatkan dari Rabbnya,
“Sesungguhnya Aku menerima shalatnya seseorang yang tawadhu’ karena keagungan-Ku, tidak sombong terhadap makhluk-Ku, tidak terus-menerus melakukan maksiat terhadap-Ku, menghabiskan siangnya untuk berdzikir kepada-Ku, menyayangi orang miskin, ibnu sabil, dan janda, serta menyantuni orang yang terkena musibah.”  (Al-Bazzar).

Sumber : http://www.dakwatuna.com/2010/rukun-islam-dan-prinsip-prinsip-akhlaq-bagian-ke-1/


Rukun Islam Dan Prinsip-Prinsip Akhlaq (Bagian ke-2)

3. Zakat dan Akhlaq
Zakat wajib bukan pajak yang diambil dari kas. Namun, pertama-tama ia merupakan bentuk penanaman perasaan kasih sayang, penguat hubungan antar orang-orang yang saling mengenal, serta penyatuan lintas strata masyarakat.
Al-Qur’an menyebutkan tujuan dikeluarkannya zakat.
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.  (QS. At Taubah: 103)

Membersihkan dari daki-daki kekurangan dan mengangkat masyarakat ke tingkat keluhuran merupakan hikmah utama zakat.

Oleh sebab itu Nabi memperluas pemahaman sedekah agar seorang muslim berusaha untuk melakukannya,
“Senyum untuk saudaramu adalah sedekah, kamu memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar adalah sedekah. Kamu membimbing seseorang di tempat tersesatnya adalah sedekah, serta kamu menunjukkan jalan bagi orang yang lemah penglihatannya adalah sedekah. Kamu menyingkirkan duri, tulang dari jalan adalah sedekah. Mengosongkan embermu dengan mengisi ember saudaramu adalah sedekah. Menuntun orang buta  adalah sedekah “  (HR. Bukhari)

Ajaran semacam ini bagi masyarakat gurun pasir yang selama berabad-abad berada dalam permusuhan dan pertikaian mengisyaratkan tujuan yang dipaparkan oleh Islam, yang membimbing masyarakat Arab jahiliyah yang gelap gulita itu.

4. Puasa dan Akhlaq
Islam juga mensyariatkan puasa. Ibadah ini tidak dipandang sebagai larangan makan dan minum untuk rentang waktu tertentu. Namun ia dianggap sebagai tahapan larangan bagi jiwa manusia untuk memenuhi syahwatnya yang berbahaya serta keinginannya yang bejat.

Untuk menegaskan pengertian ini, Rasulullah saw bersabda,
“Barangsiapa tidak meninggalkan persaksian palsu dan tidak meninggalkan perbuatan (karena persaksian palsu itu) maka Allah tidak punya kepentingan apapun ketika ia meninggalkan makanan dan minumannya.”  (HR. Bukhari).

“Bukanlah puasa itu hanya sekadar tidak makan dan minum. Puasa itu adalah meninggalkan ucapan sia-sia dan kata-kata jorok. Jika seseorang mencacimu atau berbuat jahil kepadamu katakan saja, ‘Aku sedang puasa.’” (Ibnu Khuzaimah).
Al-Qur’an juga menyebutkan buah puasa seperti halnya firman Allah,

“Diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.”  (QS. Al-Baqarah: 183).

5. Haji dan Akhlaq
Mungkin seseorang mengira bahwa bepergian ke tempat suci, yang diwajibkan bagi siapa yang mampu dan dijadikan sebagai salah satu kewajiban Islam kepada pengikutnya, hanya sebagai wisata dan jauh dari pesan-pesan moral dan nilai-nilai luhur yang kadang dimiliki oleh berbagai agama melalui ritual gaibnya.
Tentu ini tidak benar. Sebab Allah telah berfirman,
"(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”  (QS. Al-Baqarah: 197).

Inilah paparan ringkas tentang sebagian ibadah populer dalam Islam dan dikenal sebagai rukun-rukun utamanya. Jelaslah kiranya sejauh mana kuatnya hubungan antara agama dengan akhlaq.
Ibadah yang berbeda inti dan tampilannya. Namun ia bertemu pada tataran tujuan sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw melalui sabdanya,
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq mulia.”

Shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah ketaatan lainnya yang ada pada ajaran Islam merupakan tangga menuju kesempurnaan ideal dan sarana mensucikan jiwa untuk memelihara dan meninggikan kualitas hidup. Perilaku yang mulia dan berkaitan erat dengan ibadah itu atau muncul akibat itu akan membuat seseorang memiliki tempat tertinggi dalam agama Allah.

Jika seseorang tidak mendapatkan apapun untuk mensucikan hatinya, membersihkan otaknya serta mengeratkan hubungannya dengan Allah dan dengan manusia maka orang itu gagal. Allah berfirman,

“Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, Maka Sesungguhnya baginya neraka jahanam. ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh Telah beramal saleh, Maka mereka Itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang Tinggi (mulia), (yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).”(QS. Thaha: 74-76)

Sumber : http://www.dakwatuna.com/2010/rukun-islam-dan-prinsip-prinsip-akhlaq-bagian-ke-2/


Rukun Islam Dan Prinsip-Prinsip Akhlaq (Bagian ke-3)

Kelemahan Akhlaq Bukti Lemahnya Keimanan
Iman adalah kekuatan yang memelihara seseorang dari dunia dan mendorongnya mencapai kemuliaan. Oleh karena itu ketika Allah menyeru hamba-Nya menuju kebaikan atau mewanti-wantinya melakukan kejahatan. Allah menjadikannya sebagai konsekuensi keimanan yang kokoh tertancap di dalam hati mereka. Betapa sering Allah mengucapkan hal ini di dalam kitab-Nya,
“Hai orang-orang beriman…”

Setelah itu Allah menyebutkan tugas yang dibebankan kepada mereka,
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS. At-Taubah: 119).

Misalnya. Pemandu risalah menjelaskan bahwa keimanan yang kuat akan melahirkan akhlaq yang kuat pula. Dan kemerosotan akhlaq disebabkan oleh lemahnya keimanan atau kehilangan keimanan. Tergantung bobot kejahatan yang ada.

Orang yang menyeramkan wajahnya dan rusak perilakunya melakukan serangkaian kejahatan dan tidak peduli kepada seorang pun. Rasulullah saw bersabda;
“Rasa malu dan keimanan saling terkait satu sama lainnya. Jika salah satunya hilang,  hilang pula yang lain.”    (HR.Hakim dan Thabari).

Orang yang menyakiti tetangganya dan selalu mengatakan hal-hal buruk kepada mereka. Agama memberi penilaian kepadanya sebagai suatu kekerasan. Seperti apa yang dikatakan oleh Rasulullah,
“Demi Allah, ia tidak beriman. Demi Allah ia tidak beriman. Dan demi Allah ia tidak beriman.” Ada yang bertanya, “Siapa ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Orang yang apabila tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.”  (HR. Al-Bukhari).

Anda juga mendapati ketika Rasulullah mengajarkan para pengikutnya agar berpaling dari kesia-siaan dan menjauhi kasak-kusuk. Beliau bersabda,
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata yang baik atau diam.”  (HR. Bukhari).

Demikianlah kemuliaan ditanam dan dikokohkan hingga muncul buahnya. Itu semua bersumber dari kejujuran dan kesempurnaan iman.

Hanya saja sebagian orang yang mengaku sebagai muslim menggampangkan ibadah wajib. Di hadapan masyarakat Islam mereka menampakkan seolah-olah sangat peduli untuk melaksanakan ibadah itu. Dan pada saat yang sama mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan akhlaq mulia dan keimanan yang sesungguhnya.

Nabi mengancam orang-orang yang mencampur-campur seperti itu dan mewanti-wanti umatnya. Sebab meniru bentuk-bentuk ibadah dapat dilakukan siapa saja yang tidak mampu menangkap ruhnya atau tidak bisa naik sesuai dengan tingkatannya. Bisa jadi seorang anak kecil dapat meniru gerakan shalat dan melafalkan doa-doanya. Bisa jadi seorang artis dapat memerankan ketawadhuan dan memperagakan ibadah paling penting. Namun, semuanya tidak ada gunanya dan tidak menunjukkan kebenaran keyakinan dan kebersihan motivasi. Ukuran kemuliaan dan kebersihan perilaku harus menggunakan parameter yang tidak pernah salah, yakni akhlaq yang luhur.

Dalam hal ini terdapat hadits dari Nabi bahwa seseorang berkata kepada beliau,
“Ya Rasulullah, si Fulanah itu diceritakan banyak shalatnya, puasanya, dan sedekahnya. Hanya saja ia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Rasulullah menjawab, “Wanita itu ada di neraka.” Lalu orang itu berkata lagi, “Ya Rasulullah, si Fulanah itu sedikit shalatnya, puasanya, dan sedekahnya. Ia hanya bersedekah dengan sepotong keju saja namun tidak menyakiti tetangganya. Rasulullah menjawab, “Wanita itu berada di surga.”

Jawab beliau menunjukkan nilai akhlaq yang luhur. Juga ditegaskan bahwa sedekah adalah ibadah sosial yang manfaatnya merembet kepada orang lain. Oleh karena itu sisi kuantitasnya berbeda dengan ibadah shalat dan puasa, yang secara lahir merupakan ibadah pribadi.

Rasul Islam tidak cukup hanya dengan menjawab pertanyaan. Beliau perlu menjelaskan hubungan antara akhlaq dan keimanan yang sesungguhnya dan ibadah yang benar lalu menjadikannya sebagai asas kebaikan dunia dan akhirat.
Permasalahan akhlaq lebih penting dari itu semua. Perlu bimbingan yang berkelanjutan dan nasihat yang berkesinambungan agar tertanam kokoh di dalam hati dan pikiran. Bahwa iman, kebaikan, dan akhlaq adalah komponen yang integral dan saling terkait. Tidak ada orang yang dapat memisah-misahkannya.

Pada suatu hari beliau pernah bertanya kepada para sahabat,
“Tahukah kalian siapa orang bangkrut itu?” Mereka menjawab, “Orang bangkrut menurut kami adalah yang tidak punya dirham dan harta benda.” Beliau bersabda, “Orang bangkrut di kalangan umatku adalah seseorang yang datang pada hari Kiamat nanti dengan shalat, zakat, dan puasanya. Ia datang pada hari itu dan sebelumnya pernah mencaci si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul ini. Maka yang ini diberi dari kebaikannya (ibadahnya) dan itu dari kebaikannya (ibadahnya). Jika kebaikannya sudah habis sebelum melunasi tanggungannya diambillah dari kesalahan mereka dan dilemparkan kepadanya. Lalu orang itu dilemparkan ke dalam neraka.”  (HR. Muslim)

Itulah orang bangkrut. Seperti seorang pedagang yang memiliki dagangan di tokonya senilai seribu. Sementara ia punya utang senilai dua ribu. Bagaimana mungkin orang malang ini menjadi kaya?

Seorang taat beragama yang melakukan banyak ibadah lalu setelah itu banyak melakukan dosa. Wajahnya muram. Dekat dengan permusuhan. Bagaimana mungkin ia menjadi seorang yang bertaqwa?

Diriwayatkan bahwa untuk permasalahan ini Nabi membuat perumpamaan yang dekat. Beliau bersabda,
“Akhlaq yang baik melarutkan kesalahan sebagaimana air melarutkan tanah keras. Akhlaq buruk itu merusak amal sebagaimana cuka merusak madu.”  (HR. Al-Baihaqi).

Jika keburukan berkembang dalam diri, bahayanya menyebar, dan resikonya mengganas. Seseorang bisa terlepas dari agamanya sebagaimana orang telanjang terlepas dari pakaiannya. Lalu anggapan sebagai orang beriman menjadi palsu. Lalu adakah nilai agama tanpa akhlaq? Apa pula pengertian kerusakan walaupun ada afiliasi kepada Allah?
Untuk mengukuhkan prinsip-prinsip yang tegas tersebut, hubungan antara keimanan dan akhlaq yang kuat. Nabi bersabda,
“Ada tiga hal yang jika berada pada seseorang ia menjadi munafik. Kendatipun ia puasa, shalat, haji, umrah, dan mengatakan dirinya muslim: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia khianat.”  (HR. Muslim).

Beliau bersabda di riwayat lain,
“Tanda munafik ada tiga: Jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia khianat.”

Beliau bersabda lagi,
“Ada empat hal yang jika berada pada seseorang ia menjadi munafik murni. Dan siapa yang padanya terdapat satu ciri berarti padanya ada satu ciri kemunafikan sampai ia meninggalkannya: Jika diberi amanah ia khianat, jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika bertikai ia curang.” (HR. Bukhari).

Sumber : http://www.dakwatuna.com/2010/rukun-islam-dan-prinsip-prinsip-akhlaq-bagian-ke-4-kelemahan-akhlaq-bukti-lemahnya-keimanan/


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... Amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Posting Komentar