Laman

Kamis, 24 Februari 2011

Tips Memuji, Dipuji dan Berpendapat

Tips Memuji dan Dipuji dalam Islam

Di antara fenomena umum yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, adalah fenomena pujian.

Secara garis besar, pujian bisa diklasifikasikan dalam 3 bentuk :
  1. Pujian yang diucapkan untuk menjilat,
  2. Pujian yang sifatnya hanya basa-basi belaka,
  3. Pujian yang diucapkan sebagai ekspresi kekaguman.


Bila disikapi secara sehat dan proporsional, pujian bisa menjadi modal positif yang dapat memotivasi kita agar terus meningkatkan diri. Namun, kenyataannya, pujian justru lebih sering membuat kita lupa daratan, lepas kontrol, dan seterusnya. Semakin sering orang lain memuji kita, maka semakin besar potensi kita untuk terlena, besar kepala, serta hilang kendali diri. Padahal Allah Swt. mengingatkan dalam firmanNya:
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (Qs. Al-Najm; 32)

Agar dapat menyikapi pujian secara sehat, Nabi Saw. memberikan 3 kiat yang sangat menarik untuk diteladani :
Pertama, selalu mawas diri supaya tidak sampai terbuai oleh pujian yang dikatakan orang. Oleh karena itu, setiap kali ada yang memuji beliau, Nabi Saw. menanggapinya dengan doa:
“Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang dikatakan oleh orang-orang itu.” (HR. Al-Bukhari)

Lewat doa ini, Nabi Saw. mengajarkan bahwa pujian adalah perkataan orang lain yang potensial menjerumuskan kita. Ibaratnya, orang lain yang mengupas nangka, tapi kita yang kena getahnya. Orang lain yang melontarkan ucapan, tapi malah kita yang terjerumus menjadi besar kepala dan lepas kontrol.

Kedua, menyadari hakikat pujian sebagai topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain. Karena, sebenarnya, setiap manusia pasti memiliki sisi gelap. Dan ketika ada seseorang yang memuji kita, maka itu lebih karena faktor ketidaktahuan dia akan belang serta sisi gelap kita. Oleh sebab itu, kiat Nabi Saw. dalam menanggapi pujian adalah dengan berdoa:
“Dan ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui (dari diriku)”. (HR. Al-Bukhari)

Ketiga, kalaupun sisi baik yang dikatakan orang lain tentang kita adalah benar adanya, Nabi Saw. mengajarkan kita agar memohon kepada Allah Swt. untuk dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang lain. Maka kalau mendengar pujian seperti ini, Nabi Saw. kemudian berdoa:
“Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira”. (HR. Al-Bukhari)

Selain memberikan teladan kiat menyikapi pujian, Nabi Saw. Dalam keseharian beliau juga memberikan contoh bagaimana mengemas pujian yang baik. Intinya, jangan sampai pujian yang terkadang secara spontan keluar dari bibir kita, malah menjerumuskan dan merusak kepribadian sahabat yang kita puji.

Ada beberapa teladan yang dapat disarikan dari kehidupan Nabi Saw., yaitu di antaranya :

Pertama, Nabi Saw. tidak memuji di hadapan orang yang bersangkutan secara langsung, tapi di depan orang-orang lain dengan tujuan memotivasi mereka. Suatu hari, seorang Badui yang baru masuk Islam bertanya tentang Islam. Nabi menjawab bahwa Islam adalah shalat lima waktu, puasa, dan zakat. Maka Orang Badui itupun berjanji untuk menjalankan ketiganya dengan konsisten, tanpa menambahi atau menguranginya. Setelah Si Badui pergi, Nabi Saw. memujinya di hadapan para Sahabat,
“Sungguh beruntung kalau ia benar-benar melakukan janjinya tadi.” Setelah itu beliau menambahi, “Barangsiapa yang ingin melihat penghuni surga, maka lihatlah Orang (Badui) tadi.” (HR.Al-Bukhari dan Muslim, dari Thalhah ra.)

Kedua, Nabi Saw. lebih sering melontarkan pujian dalan bentuk doa. Ketika melihat minat dan ketekunan Ibn Abbas ra. dalam mendalami tafsir Al-Qur’an, Nabi Saw. tidak serta merta memujinya. Beliau lebih memilih untuk mendoakan Ibn Abbas ra.:
“Ya Allah, jadikanlah dia ahli dalam ilmu agama dan ajarilah dia ilmu tafsir (Al-Qur’an).” (HR. Al-Hakim, dari Sa’id bin Jubair)

Begitu pula, di saat Nabi Saw. melihat ketekunan Abu Hurairah ra. Dalam mengumpulkan hadits dan menghafalnya, beliau lantas berdoa agar Abu Hurairah ra. dikaruniai kemampuan untuk tidak lupa apa yang pernah dihapalnya. Doa inilah yang kemudian dikabulkan oleh Allah Swt. Dan menjadikan Abu Hurairah ra. sebagai Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Pujian yang dilontarkan orang lain terhadap diri kita, merupakan salah satu tantangan berat yang dapat merusak kepribadian kita. Pujian dapat membunuh karakter seseorang, tanpa ia sadari. Oleh karena itu, ketika seorang Sahabat memuji Sahabat yang lain secara langsung, Nabi Saw. menegurnya:
“Kamu telah memenggal leher temanmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Bakar ra.)

Senada dengan hadits tersebut, Ali ra. berkata dalam ungkapan hikmahnya yang sangat populer,
“Kalau ada yang memuji kamu di hadapanmu, akan lebih baik bila kamu melumuri mulutnya dengan debu, daripada kamu terbuai oleh pujiannya.”

Namun ketika pujian sudah menjadi fenomena umum ditengah-tengah masyarakat kita, maka yang paling penting adalah bagaimana menyikapi setiap pujian secara sehat agar tidak sampai lupa daratan dan lepas kontrol; mengapresiasi setiap pujian hanya sebagai topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain; serta terus berdoa kepada Allah Swt. agar dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya, kalaupun perlu memuji seseorang adalah bagaimana bisa mengemas pujian secara sehat.. Toh memuji tidak mesti dengan kata-kata, tapi akan lebih berarti bila diekspresikan lewat dukungan dan doa. Sehingga dengan demikian, kita tidak sampai menjerumuskan orang yang kita puji.

(Ustadz Abdullah Hakam Syah, Lc)

Sumber : http://sahabatiman.wordpress.com/2010/10/06/tips-memuji-dan-dipuji-dalam-islam/


Beda Pendapat dan Pujian

“Jangan terlalu manis sehingga engkau ditelan, jangan terlalu pahit sehingga engkau dimuntahkan” (Demokrates)
Dalam interaksi kita dengan orang lain, beda pendapat tak dapat dielakkan, sesuatu yang menurut anda sudah benar, mungkin salah menurutku. Demikian sebaliknya. Lalu bagaimana upaya untuk mendamaikan dua sudut pandang yang berlainan. Disitu salah satu keunikan hubungan interpersonal, menegosiasikan kutub yang tidak begitu persis sama atau bahkan bertentangan secara diametral.

Peristiwa bertolak pendapat ini dapat berlangsung di mana saja, tak pilih tempat dan tak pilih orang. Walau lagi pada dua sejoli, kekasih yang saling menyayangi. Atau begitulah nikmatnya hidup, ada rupa-rupa pandang yang tak sejalan. Lha namanya juga alam materi, tak ada sesuatu yang persis sama. Walau sesungguhnya dengan pendekatan fisikan kuantum, pada tingkat sub materi, keseluruhan penyusun itu sama, getaran energi quanta yang melingkupi segala.

Lalu bagaimana menempatkan diri dengan keinginan orang yang tak seiring jalan dengan kita, mengikuti begitu saja atau menolak mentah-mentah? Atau ditelisik dahulu, apa berfaedah atau buruk bagi saya. Bahwa persepsi yang berbeda akan memperkaya model pahaman kita, mengajak setiap anak manusia untuk melihat kenyataan yang belum sempat dilihatnya. Proses negosiasi perbedaan itu menantang, bagi mereka yang melihat hidup sebagai wahana penuh warna dimana ada kompromi dan sintesa, dibuat dari beberapa tesa yang berlainan. Apalagi jika dalam menyikapi perbedaan, masing-masing pihak telah memasang strategi bertahan, maka tak jarang bicara apa adanya adalah sebuah pilihan. Namun di dunia yang kian aneh ini, bumbu pergaulan tetap dibutuhkan, hanya seberapa besar kadar yang dapat ditoleransi. Bumbu pergaulan yang dimaksud, diantaranya barangkali adalah pujian.

Tetapi bagaimana menggunakan pujian dan bagaimana menyikapi pujian? Kaum politikus paling sering terkena “getah” saat mengkampanyekan program dan janji politik, dihadapan audiens, boleh jadi orang bertepuk meriah, gempita sekali, namun tiada yang bisa memberi jaminan pasti bahwa yang tengah berlangsung tadi bukan sebentuk kepura-puraan belaka, apalagi khalayak di tanah air pada kasus pilkada misalnya, tak sedikit yang mengambil kesempatan, mendukung sana dan mendukung sini. Setiap calon yang menyambangi niscaya diiyakan. Ya tentu sang calon sebagai rasa terima kasih akan menggelontorkan dana dan fasilitas bagi para pendukung. Sementara di sisi lain, betapa sulit menilai kesetiaan dari seseorang yang mungkin mendua.

Belajar dari sejumlah kasus, terbukti bahwa kebusukan janji bukan dominasi kaum elit saja. Kebusukan itu juga milik rakyat kecil, milik mahasiswa, milik pekerja kantoran. Jadi ada potensi kebusukan dalam kadar yang berbeda dalam diri tiap kita. Dalam bahasa kaum bijak, serupa tarik menarik antara terang cahaya dengan gelap tanah. Jiwa manusia ialah medan tarung abadi tak berhingga dari pesona keluhuran dan penyimpangan. Tetangga satu RT saya yang berprofesi sebagai tukang becak, pada musim kampanye lalu, melibatkan diri sebagai anggota tim penggembira dari beberapa pasangan kandidat eksekutif/ legislatif sekaligus. Ketika saya tanya, kenapa berbuat demikian, jawabnya ingin menyambung hidup. Walah…….!

Pada hamparan yang lain, akibat pujian, para pemimpin bisa saja menjadi lalim dan tak memiliki belas kasih akibat ulah pengikutnya yang telah menempatkan pemimpin itu pada wilayah bebas kritik. Puja puji bertebaran di sekitar pemimpin yang hampir jatuh, terperosok ke lubang yang digali secara sadar atau tidak oleh pengikut-pengikutnya.
Kembali pada topik semula, bagaimana menangkal serangan pujian dari orang lain, berdiam saja dengan hati penuh bunga, tanpa sadar, diri seakan melayang, tak berpijak di tanah. Apa seperti ini? Bukankah ini akan membuat kita terlena dan dapat lalai dari kenyataan bahwa kita punya banyak kekurangan. Entah..?

Ah, saya teringat Plato yang pernah berujar:  
“Kalau ada orang yang memujimu padahal tidak ada jasa atau budi yang engkau berikan kepadanya, bersegeralah memberinya jasa dan budi. Kalau tidak, pujiannya itu akan berubah menjadi celaan”

Salam Kompasiana ! Salam Persahabatan !

Sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2010/08/24/beda-pendapat-dan-pujian/

Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... Amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Posting Komentar