Laman

Selasa, 01 Maret 2011

Bohong yang Boleh

Dalam suatu ceramah sore di salah satu stasiun televis, KH. Zainudin MZ pernah mengungkapkan kalo ada saatnya bohong diperbolehkan dalam agama. Hahh?? Benarkah?  Malah tidak tanggung-tanggung ada Hadist Rasulullah yang mengupas tentang hal ini. Ah, masa sih.. jadi penasaran nih.

Bohong adalah lawan kata dari jujur (mengungkapkan kebenaran apa adanya tanpa ditutup-tutupi). Bohong berarti sebuah ungkapan untuk melebih-lebihkan, menambah-nambah atau mengurang-ngurangi sebuah peristiwa yang sebenarnya terjadi. Sejatinya, bohong merupakan sebuah kemaksiatan. Artinya berbohong merupakan salah satu perbuatan yang dilarang agama (Islam) dan bagi yang melakukannya akan berdosa. Dalam cerita anak-anak, dikisahkan kalo hidung pinokio akan memanjang jika ketahuan bohong. hehe..  Ini hanyalah kisah simbolik kalo bohong merupakan perbuatan tercela yang pasti ketahuan dan membuatnya malu dikemudian hari.

Namun ada saat-saat tertentu, berbohong pun ternyata diperbolehkan loh. Ini seperti yang tertuang dalam Hadist Rasulullah. Rasulullah bersabda bahwa ada tiga jenis bohong yang diperbolehkan, malah menjadi wajib dalam situasi dan kondisi tertentu. Mau tau apa aja? Yupp, ini dia…

  1. Bohong yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka mendamaikan dua orang saudaranya yang sedang bermusuhan. Nah, ini jelas banget kan? Mungkin ada diantara kita punya dua orang temen yang saling bermusuhan. Dan tanpa sengaja, dua orang tersebut bercerita (curhat) kepada kita. Masing-masing dari mereka menjelek-jelekkan yang lain. Nah, dalam hal ini kita boleh tuh berbohong dengan mengatakan kalo yang mereka omongin tuh gak bener. Kita bisa berbohong pada masing-masing dari mereka dengan menceritakan kebaikan-kebaikan mereka pada masing-masing teman yang musuhan tadi. Hingga akhirnya, mereka berdua pun berdamai. Dan misi pun selesai. Hehe…
  2. Bohong yang dilakukan suami untuk menyenangkan istrinya atau bohong yang dilakukan istri untuk menyenangkan suaminya. Hoho… jangan diartikan macem-macem dulu. Contohnya gini. Seorang suami yang membelikan hadiah sebuah baju untuk istri tercintanya. Karena sang suami gak terlalu tahu mode pakaian yang lagi ngetren (fashionable), maka sang suami membeli baju yang.. katakanlah sangat kurang enak dipandang. Modelnya sudah kuno. Ditambah lagi warnanya ngejreng bangeet. Namun sang suami bermaksud menyenangkan istrinya dengan memberikan hadiah buat sang istri tercinta. Nah, meskipun tahu kalo baju pemberiannya sangat jelek, namun istri yang bijak akan menerima dengan senang hati. Dalam hal ini, istri boleh berbohong bahwa pemberian sang suami adalah pemberian terbaik yang pernah ia dapatkan. Tujuannya tidak lain adalah agar suami merasa senang karena pemberiannya diterima dengan baik. Gitu loooh..
  3. Bohong untuk menyelamatkan nyawa seseorang yang terancam. Contohya, misalkan ada seseorang (sebut saja namanya fulan) hendak dibunuh oleh orang lain. Padahal kita tahu, orang tersebut tidak bersalah apa-apa. Si fulan meminta perlindungan kepada kita agar dirinya diselamatkan. Dan kita pun akhirnya mau menyembunyikannya. Setelah itu, datanglah orang yang bermaksud membunuh si fulan kepada kita. Tujuannya bertanya kepada kita untuk mencari keberadaan si fulan. Maka pada saat ini, kita boleh berbohong demi kebaikan agar nyawa si fulan terselamatkan.
Nah itulah temans, tiga jenis kebohongan yang diperbolehkan oleh Rasulullah Saw. Namun ya itu tadi, terbatas hanya pada tiga permasalahan tadi aja. Ungkapan berbohong demi kebaikan”  mungkin itulah yang disebutkan dalam Hadist Rasulullah tersebut. Tetapi sekali lagi kebaikan disini adalah kebaikan yang  dibenarkan menurut syariat islam loh. Jangan asal ngomong “kan gue bohong demi kebaikan gitu loh!”, tetapi kebaikan yang dimaksud ternyata hanya untuk kepentingannya sendiri. Nah, ini yang gak masuk kriteria. Jadi selain dari persoalan di atas yang dikemukakan Rasulullah, berbohong ya tetap saja berdosa. Wallahu A’lam Bishhowab.

Sumber : http://pondokhati.wordpress.com/2009/08/31/bohong-yang-boleh/


"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui."  (QS Al-An’am : 103)

“… Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari wajah Allah.” (QS. Al-Baqarah: 272)

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari wajah Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)” (QS. Ar-Ra’d: 22)

“Maka berikanlah kepada Kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari wajah Allah; dan mereka Itulah orang-orang beruntung.” (QS. Ar-Ruum: 38)

“Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mengharapkan wajah Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS. Ar-Ruum: 39)

“Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)

“Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari wajah Tuhannya yang Maha tinggi.” (QS. Al-Lail: 20)

 Dari Ibnu Mas'ud RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ''Hendaklah kalian selalu melakukan kebenaran, karena kebenaran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunut ke surga. Jika seseorang selalu berbuat benar dan bersungguh dengan kebenaran, ia akan ditulis di sisi Allah swt sebagai orang yang sangat benar. Jauhkanlah dirimu dari bohong, karena bohong akan menuntun kepada kedurhakaan, dan durhaka itu menuntun ke neraka. Jika seseorang selalu bohong dan bersugguh-sungguh dengan kebohongan, ia akan ditulis di sisi Allah swt sebagai orang yang sangat pembohong.'' (Hadis muttafaqun'alaih)

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ''Jauhkanlah dirimu dari prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling bohong.'' ( Hadis Muttafqun'alaih)


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat...
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut Anda note ini bermanfaat...

Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar